RadarRakyat.co-Oleh: Edward Marthens
PERTANYAAN
yang menggantung di atmosfir Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
hari-hari ini adalah:
Mengapa
Presiden Jokowi melindungi Ahok?
Inilah
pertanyaan yang jadi obrolan di diskusi-diskusi
kalangan aktivis dan wartawan, warga kelas menengah di cafe-cafe, dan di
warung-warung kopi oleh masyarakat kelas bawah.
Inilah
pertanyaan yang terus dicari jawabnya lewat media-media online yang bukan
mainstream, di media sosial, grup-grup whats app, dan lainnya.
Rakyat
negeri ini benar-benar tidak bisa memahami jalan pikiran Jokowi. Bagaimana
mungkin seorang Presiden sebuah negeri besar yang berdaulat bersedia dan terus
tersandera oleh seorang penista agama bernama Ahok?
Bagaimana
mungkin seorang yang dicitrakan sangat merakyat dan pekerja keras bisa
terkungkung oleh gubernur bengis yang hobi menggusur rakyatnya sendiri?
Bagaimana
mungkin Presiden yang awalnya diharapkan akan bekerja sungguh-sungguh
menyejahterakan seluruh rakyatnya, jadi terkulai tidak berdaya di bawah
bayang-bayang seorang pejabat publik yang berhamba kepada para taipan yang
menjadi bohirnya?
Inilah pertanyaan-pertanyaan
yang tidak kunjung mendapat jawaban memuaskan.
Memang,
sejumlah asumsi dan hipotesa berseliweran untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Satu di antaranya adalah, karena Jokowi BERUTANG BUDI KEPADA PARA PENGEMBANG
YANG MEMBIAYAI KAMPANYE saat dia maju
jadi Capres. Karena para taipan itulah yang kini berada di belakang Ahok, si
minoritas yang menjadi tirani atas mayoritas.
Tapi namanya
juga asumsi dan hipotesa, kebenarannya harus diuji lagi. Artinya, asumsi dan
hipotesa jawaban-jawaban tersebut bisa benar, bisa juga keliru.
Meski
demikian, publik kadung yakin (?) bahwa hipotesa dan asumsi tadi benar adanya.
Terlebih lagi, mulut jamban Ahok sendiri yang mengonfirmasi (mengeluarkan
statement), bahwa Jokowi tidak akan menjadi Presiden tanpa bantuan dari para
pengembang.
Pernyataan
‘panas’ ini disampaikan Gubernur DKI Jakarta yang indeks prestasi di bawah
banderol tersebut secara terbuka di depan publik. Banyak media yang meliput dan
menulisnya sebagai berita saat dia menyemburkannya.
Pangkal
soalnya adalah ketika dia berseteru dengan Menteri Koordinator Maritim dan
Sumber Daya, Rizal Ramli, ihwal reklamasi Pantai Utara Jakarta.
Dan, rakyat
pun akhirnya harus menelan kenyataan
pahit. Jokowi lebih memilih Ahok, sosok korup yang mati-matian dipoles media
sebagai pejabat yang bersih. Sementara Rizal Ramli yang NYATA-NYATA MEMBELA
KEPENTINGAN WONG CILIK KELAS MENENGAH KE BAWAH harus terpental dari posisinya
karena perseteruan itu.
Pernyataan
Ahok bahwa Jokowi mustahil jadi Presiden tanpa bantuan pengembang, memang luar
biasa. Betapa tidak, sampai detik ini tidak ada sepotong pun bantahan dari
Istana. Walau, tentu saja, tidak ada secuil pun pengakuan Jokowi atas kebenaran
yang dilantangkan Ahok. Apakah artinya ini? Jangan-jangan, kali ini mulut Ahok
yang liar itu benar adanya?
Ada benang
merah?
Misteri
hubungan Ahok-Jokowi-pengembang sepertinya
bakal tidak lagi jadi misteri. Terlampau banyak tanda-tanda yang
menunjukkan ketiganya berada dalam satu garis. Memang, garisnya tidak lurus
benar. Garis itu berliku, meliuk-liuk, berputar-putar. Namun tidak terlalu
sulit melihat ada benang merah yang menghubungkan ketiganya.
Berbekal
pernyataan Ahok tersebut, menjadi masuk akal bila Jokowi mati-matian membela
dan melindungi gubernur yang tidak segan-segan memaki seorang ibu dengan
sebutan maling di depan publik itu.
Tragisnya,
makian itu dilontarkan sang gubernur hanya karena yang bersangkutan bertanya
soal Kartu Jakarta Pintar (KJP) anaknya. Tanda lain yang paling benderang, ya
itu tadi, terdongkelnya Rizal Ramli dari lingkaran kabinet.
Kasus
penistaan agama yang dilakukan Ahok di Kepulauan Seribu, September tahun silam,
juga menjadi indikator betapa Jokowi membela habis-habisan politisi yang tak
segan-segan mengkhianati pendukungnya itu. Sungguh sangat sulit diterima akal
sehat, Jokowi bisa mengabaikan tiga kali aksi yang melibatkan jutaan massa.
Padahal,
tuntutan massa sangat sederhana, penjarakan Ahok si penista agama. Toh, begitu
banyak yurisprudensi penista agama langsung ditangkap dan dibui, baik di masa
Orla, Orba, maupun reformasi; bahkan sejak zaman Belanda menjajah negeri gemah
ripah loh jinawi ini.
Sebagai
bagian dari anak bangsa, saya ingin memberi masukan kepada Jokowi. Bahwa,
terlalu mahal harga yang harus dibayar jika dia terus-menerus membela gubernur
yang telah MENGOYAK KETUNGGAL-IKAAN.
Membiarkan
kasus Ahok belarut-larut sama saja
membiarkan masalah dengan eskalasi yang kian liar. Tiga kali aksi massa dengan
jumlah super fantastis dan terus membengkak, adalah sinyal yang teramat terang,
betapa kasus ini sama sekali tidak bisa disikapi dengan sambil lalu.
Jika
pengadilan memutus Ahok bebas, protes ummat Islam dipastikan bakal mencuat
lagi.
Pada tahap
ini, jangan berharap mereka akan menggelar aksi damai dan superdamai seperti
yang sudah-sudah.
Bukankah
sebelumnya beredar tamsil, bahwa aksi 4 November (411) adalah thawaf alias keliling
Ka’bah. Sedangkan aksi 2 Desember (212) adalah wukuf (duduk berdiam diri di
padang Arofah). Kalau sampai terjadi aksi berikutnya, maka itu adalah
LEMPAR JUMROH.
Buat yang
belum mafhum rukun haji, lempar jumroh adalah aksi melempar sejumlah kerikil yang
disimbolkan MELEMPAR SETAN. Dalam konteks kasus Ahok, anda tentu paham yang
dimaksud dengan lempar jumroh, bukan?
Sekadar
mengingatkan kembali, aksi 411 diklaim diikuti 2,3 juta massa. Sementara aksi
212 jumlahnya membengkak menjadi lebih dari 7 juta ummat. Anda bisa bayangkan,
apa yang terjadi jika jutaan massa secara berbarengan ‘melempar jumroh’?
Dan, aksi
melempar jumroh itu tidak hanya di Jakarta, tapi juga terjadi di banyak kota di
Indonesia. Bukan mustahil, maaf, Jokowi benar-benar terjungkal dari
singgasananya.
Itu baru
risiko politik. Jika kerusuhan meluas ke seantero negeri, dampak buruk lain
yang tidak kalah mengerikannya adalah terganggungnya perekonomian nasional.
Pertumbuhan pas-pasan yang kini 5%, akan terjungkal menjadi minus 8-10%. Ini
artinya Indonesia akan terlempar ke belakang seperti 18 tahun silam, saat
reformasi menjelang terjadi.
Krisis
moneter 1998 mungkin tidak ‘ada apa-apanya’ dibandingkan bila kita kembali
mengalami kerusuhan massal. Pasalnya, saat krisis 1998, harga berbagai
komoditas pertanian dan pertambangan sedang bagus. Krisis yang membelit Jakarta
khususnya, dan Jawa pada umumnya, relatif tidak dirasakan rakyat yang tinggal
di Sulawesi, misalnya. Itulah sebabnya, waktu itu ekonomi Indonesia tidak
benar-benar lumpuh total.
Bandingkan
dengan saat ini. Harga komoditas masih terkulai. Sedikit kenaikan yag terjadi
sama sekali tidak sebanding dengan penurunan dahsyat sepanjang lima tahun
terakhir. Ditambah dengan himpitan ekonomi yang dirasakan mayoritas rakyat
Indonesia, kasus Ahok adalah kombinasi yang pas bagi lahirnya aksi-aksi yang
berujung pada revolusi. Artinya, terlalu mahal harga yang harus dibayar seluruh
negeri ini, jika Jokowi terus saja melindungi Ahok.
Pertanyaannya,
dengan risiko sedahsyat ini akankah Jokowi tetap akan membela dan melindungi
Ahok?
Jadi, apa
sebenarnya yang menyebabkan Presiden membela mati-matian Ahok? Akankah Jokowi
bermaksud menulis sendiri sejarahnya? Sejarah yang tragis dan ironis…
Jakarta, 31
Januari 2017
Penulis
adalah pekerja sosial, tinggal di Jakarta (dm1)

0 Response to " Opini : Ahok, Jokowi, dan Pertanyaan itu…"
Posting Komentar