RadarRakyat.co-Mantan tim sukses Joko Widodo saat kampanye pemilihan presiden lalu Iwan Piliang tak habis punya pengalaman menyentuh soal imam besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab (HRS).
"Selagi
kita berjalan di jalan Al Quran dan Hadits, saya tak pernah gentar, " kata
Iwan menirukan kalimat HRS pula.
Azan Zuhur
telah sekitar 10 menit berkumandang. Saya bergegas menuju Masjid di lingkungan
pesantren Habib Rizieq Sihab, Minggu, 29 Januari 2017. Gerimis miris. Kabut
menggelayut. Mendung enggan pergi di kawasan Mega Mendung, Bogor, Jawa Barat,
itu.
Berikut
catatan lengkap Iwan dengan judul, "Habib Rizieq, Tempe dan Kuah Sayur
Asam"
---
Ruang wuduk
berlantai keramik, pilihan desain bagaikan menginjak undakan batu bergelombang.
Kuning kecoklatan. Di telapak kaki rerasa kesat. Di sebelah kiri ada toilet,
lengkap dengan kloset jongkok, ada sepuluh berderet, tersaji bersih tiada
aroma.
Kami di
Jakarta, punya kegiatan #Bangrojak, Bangun Gotong Royong Jakarta. Kegiatannya
antara lain bersih-bersih toilet masjid. Tentulah peturasan ini tak perlu lagi
dibangrojakkan, sebaliknya menjadi salah satu layak diteladani.
Panjangnya
sekitar dua kali lapangan basket, lantai berterap, mengikuti kontur tanah, atap
baja ringan tanpa plafon. Imam shalat berada di lantai paling bawah, tak terasa
sudah rakaat terakhir rupanya.
Air keran
mengalir lancar, tak kian membuat dingin. Sebaliknya rasa hangat mengaliri
wajah, lengan dan kaki. Bergegas, saya memasuki masjid, lebarnya sepanjang
lapangan basket.
"Assalamualaikum
warahmatullah, Assalamualaikum warahmatullah, " Imam berjamaah lima saf
itu selesai sudah.
Saya
berjalan ke dalam masjid, tampak di bagian tengah berderet rak panjang hingga
depan. Seluruhnya berisi Al Quran dan beberapa buku agama. Seseorang setengah
baya, bersarung, juga terlambat. Ia saya daulat menjadi imam.
Imamnya
bukan Habib Rizieq Sihab (HRS). Di dalam hati di manakah Habib? Sejak awal
datang sekitar 40 menit lalu saya baru bertemu Habib Muhsin, paman HRS, sosok
sehari-hari menemaninya ke manapun pergi, selain sang isteri.
Hingga zuhur
selesai, hanya tinggal kami berdua. Jamaah awal masih khidmat berzikir. Ketika
doa lantas dipanjatkan, beruntung dari awal hingga akhir dapat mengamini.
Rabbana
Attina Fitdunia Asanah ... Aamiin
Ali lantas
mengajak beranjak. Kami berjalan ke arah agak mendaki, ke ruangan segi delapan
sebagaimana sudah saya deskripsikan kemarin. Di samping saya juga ada Habib
Muhsin. Tapi, Muhsin yang satunya lagi, ketua Forum Pembela Islam (FPI) DKI
Jakarta. Kami bersama-sama. Di dalam ruangan sudah menanti HRS.
Adalah Ali
Al-Hamid, bersama keluarga, sengaja datang menemani saya ke lokasi. Saya
membuntuti Innova putihnya dari belakang. Dari Jakarta sedianya saya hendak
mengendarai mobil kecil, Smart, entah kenapa di saat mesin sudah saya panaskan,
seakan ada yang menggerakkan untuk menukar mobil SUV. Medan ke lokasi melewati
hutan, jalanan rada offroad. Ali sebagai pemandu ke lokasi, kerabat HRS, karib
dari Kamil Smile, kawan saya di Bondowoso.
"Iwan
Piliang... saya sudah ingat sejak enam bulan lalu...," HRS merangkul,
bersalaman.
Maksudnya
sudah sejak enam bulan lalu ia ingat kami ingin bertemu. Di belakang HRS duduk,
saya lihat ada papan tulis putih kaca, masih dibiarkan bertulisan tangan biru.
Dinding di sekitar dipenuhi buku. Meja kecil di atas ambal itu pun ditumpuki
buku-buku. Sebuah kotak plastik berisi potongan kayu Gaharu di sampingnya.
Tak lama Ali
Al Hamid menyampaikan ke kafilah makan siang bersahaja itu. "Mas Iwan mau
bicara empat mata dengan Habib." Mereka meninggalkan kami.
Obrolan
ringan berlanjut ke hidangan makan siang. HRS meminta apa yang ada dihidangkan.
Mangkok sambal merah, mangkok kecil sambal hijau, tempe dan tahu goreng, kerik
tempe berteri kacang, serta semangkok besar sayur asam plus nasi putih sebakul
terhidang. Saya mengambil lengkap serba sedikit. Hingga makanan saya habis,
saya hanya melihat HRS menyiram basah nasi putih, lalu berlauk dua potong kecil
tempe saja. Lain tidak.
Saya lalu
teringat akan pesan Fakhrudin Halim, sosok wartawan sudah lama saya kenal di
Bangka. Ia juga "murid" Alm Budiman S Hartoyo, pernah mereportae Al
Mukmin, Ngruki itu. Fakhrudin sudah terlebih dulu ke Mega Mendung bertemu HRS
di lain waktu.
Perkara
makan ini, ia menuturkan, "Habib pernah dihidangkan goreng ayam. Lalu
setelah itu ia cek, apakah santri makan ayam. Ternyata tidak. Sejak itu Habib
perintahkan apa yang dimakan santri itu pula yang dimakannya."
Di saat
berdua itulah saya lontarkan pertanyaan, ceritakan soal tanah ini, benarkah
Habib menyerobot tanah Perhutani. "Tiga tahun lalu saya beli tanah dari
penggarap sehektar, lalu jadi dua hektar. Penggarap memiliki surat garapan yang
diketahui lurah," ujar HRS. Kawasan itu sendiri masih dalam teritori PTPN
VIII.
"Garapan
kalau sudah di atas dua puluh tahun bisa diurus surat hak gunanya."
Gerimis
berkabut kian pekat. Barisan perwakilan para Jawara silat se DKI Jakarta sudah
lama menantinya di ruang bagian atas, untuk unjuk kebolehan.
Mereka
taklimat takzim ingin mendukung ulama, ingin dipimpin oleh Habib Rizieq
semuanya, ya semua aliran menjadi bersatu, di bawah komando HRS.
Dalam
perkembangan hingga kini ada kawan-kawan dan kerabat HRS ikut berkebun,
mendukung pesantren, sehingga kini sudah seluas 33 hektar. Di lahan inilah
diberi judul Pesantren Agrikultura. Ada 70 santri gratis dan 50 warga petani
termasuk mereka penggarap tanah yang tanahnya sudah dibeli bertani. Dari sayur
mayur itulah ekonomi pesantren berputar. "Dari caisim, dari sawi,"
kata HRS tertawa.
Perkara
harga beli tanah bervariasi dari di bawah Rp 50 ribu hingga di atas Rp 100
ribu. HRS membantah telah menyerobot tanah Perhutani. Di media online pun saya
baca Perhutani telah membantah ihwal penyerobotan tanah.
Obrolan
empat mata itu berlanjut soal isu selingkuhnya, termasuk soal sel Alpaten (A10)
di tempatinya di Polda dulu. Alpaten itu nama samaran Antasari Azhar, karena
menempati sel A10 setelah dihuni HRS. Antasari sebuah cerita tersendiri.
Tetapi siang
jelang Ashar itu Habib Rizieq dengan yakin mengatakan, ia ditarget untuk
ditahan sebelum tanggal 11 Februari 2017. "Saya sudah paham orang seperti
saya ini dua saja, diikriminalisasi dipenjara atau dibunuh," katanya.
"Selagi
kita berjalan di jalan Al Quran dan Hadist," kata HRS pula, "Saya tak
pernah gentar. Allahu Akbar."
Seketika
bulu di badan berdiri.
Akan halnya
isu perselingkuhan dan sel Alpaten, yang kemungkinan menantinya lagi saya
lanjutkan di status esok pagi (bdn)

0 Response to "Catatan Eks Timses Jokowi: Habib Rizieq, Tempe dan Kuah Sayur Asam"
Posting Komentar