Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita memastikan stabilitas harga serta ketersediaan bahan pokok dalam kondisi aman jelang Natal dan Tahun Baru 2018. Bahkan untuk sejumlah komoditas persediannya melimpah.
Selain itu pasokan bahan pokok tidak terpengaruh cuaca ekstrim yang kini melanda tanah air.
“Cuaca ekstrim tidak terlalu berpengaruh pada pendistri busian bahan pokok karena sebelumnya kita sudah memasok ke berbagai daerah sejak November 2017,” jelas Enggar di Pasar Kosambi Bandung, Senin (4/12/17).
Berkenaan dengan persiapan menjelang Natal dan Tahun Baru, Enggar memastikan ketersediaan bahan pokok dipastikan aman. Meskipun terjadi gejolak harga di beberapa komoditi seperti ayam sehingga menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi peternak.
Sejauh ini stok daging ayam pun di kalagan pedagang kata Enggar masih melimpah karena terjadi penurunan harga daging ayam yang signifikan.
“Menjelang Natal dan Tahun baru stok aman, cuma ada sedikit kenaikan harga ayam. Tapi masih bisa ditolelir,” ujarnya.
Sedangkan harga untuk komoditi beras masih tinggi. Meskipun dari sisi kualitas beras medium mencapai harga Rp9.300/kg sampai Rp10 ribu/kg. Namun beras medium ini bisa dikategorikan sebagai beras premium karena memiliki kualitas yang baik. Di sisi lain pedagang di Pasar Kosambi ada yang menjual beras presmiun hingga Rp11.000/kg.
“Segala macam kategorinya cukup baik sehingga masuk dalam kategori itu. Itu memang sudah masuk di dalam rangenya sehingga dia masih di bawah standar premium,” ungkap Mendag.
Sementara Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Agung Hendriadi mengatakan, produksi secara nasional rata-rata melebihi kebutuhan nasional kecuali daging sapi.
Ia menerangkan, misalnya beras, bulan November produksi 2,6 juta ton, konsumsi 2,3 juta ton. Desember produksi 2,51 juta ton, konsumsi 2,50 juta ton.
Produksi bawang merah di November mencapai 103 ribu ton dengan tingkat konsumsi 93 ribu ton. Sedangkan Desember produksi 107 ribu ton, konsumsi 99 ribu ton. Cabai rawit, bulan November produksi 78 ribu ton, konsumsi 72 ribu ton. Sementara, Desember produksi mencapai 80 ribu ton, konsumsi 73 ribu ton.
Jagung, di November produksinya 1,49 juta ton, konsumsi 1,46 juta ton. Bulan Desember, produksi 1,47 juta ton, konsumsi 1,43 juta ton. “Untuk daging sapi, kami akui memang masih minus,” jelas Agung di Jakarta, Senin (4/12/17).
Bulan November dari produksi 31 ribu ton, kebutuhannya 49 ribu ton. Selanjutnya pada Desember produksi 32 ribu ton, kebutuhannya mencapai 50 ribu ton. Maka guna memenuhi kebutuhan sudah dilakukan impor sekitar 50 ribu ton, sehingga tidak perlu khawatir, karena stok tersedia.
Lebih lanjut ia menjelaskan masalah perdagangan dan rantai distribusi pangan yang masih terlalu panjang. “Distribusi menjadi persoalan besar, karena menyangkut jumlah rantai pasok yang terlalu panjang, dan barang sampai ke konsumen bisa melewati 10 titik,” paparnya.
Guna memotong rantai pasok, dilakukan berbagai upaya antara lain program e-Warung milik Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Rumah Pangan Kita (RPK) milik Bulog dan TTI. “Kementan sendiri mendirikan dan membangun Toko Tani Indonesia (TTI) diseluruh Indonesia dan Toko Tani Indonesia Center (TTIC) di Jakarta, serta beberapa kota besar lainnya,” tambahnya.
Selain memotong rantai pasok distribusi pangan, juga diberlakukan Harga Eceran Tertinggi (HET) Beras. “Implementasi HET masih diperlukan pengawalan, kecuali jika sudah ada kesadaran tinggi dari pedagang,” jelas Agung.
Menurutnya, untuk menjamin stok pangan dan stabilitasi harga, pemerintah telah melakukan beberapa kali pertemuan yang dihadiri seluruh stakeholder, termasuk pedagang. Namun demikian, ada beberapa provinsi yang perlu dilakukan pegawasan secara khusus.
“Kalau sudah ada jaminan dari pedagang, ini sangat membanggakan. Daerah-daerah yang akan merayakan Natal perlu kita lakukan pemantauan, seperti Kalimantan Barat, Maluku, Maluku Utara, NTT, Papua, Papua Barat, Sulawesi Utara, dan Sumatera Utara,” kata dia.

0 Response to "Stok dan Harga Pangan Jelang Natal dan Tahun Baru Dijamin Aman"
Posting Komentar