RadarRakyat.Info-Menarik. Isi Kultwit Pentolan JIL (Ulil Abshar Abdalla)
1. Saya
masih gatel soal penyadapan SBY ini, dan soal tuduhan bhw SBY memesan fatwa
dari MUI soal Ahok. Saya tak betah untuk tak ngetwit lg.
2. Bahwa ada
pembicaraan per telepon antara SBY dan Kiai Maruf soal kunjungan AHY ke PBNU,
benar. Dan tak ada yg salag dg itu.
3. Tetapi
bhw SBY memesan fatwa dari MUI soal Ahok, dan ada pembicaraan via telp soal
itu, saya yakin tak ada.
4. Apalagi
SBY menekan MUI agar menerbitkan fatwa soal Ahok, jelas ndak benar. Yg mungkin
“nyetir” MUI bukan SBY, ttp penguasa dong.
5. SBY
sekarang bukan penguasa. Dia tak punya kapasitas untuk nyetir MUI. Yg paling
mungkin nyetir MUI, kalau mau, ya penguasa skg.
6. Ketika
Kiai Maruf menolak adanya pembicaraan dg SBY di pengadilan, yg ditolak adalah
adanya telp soal pesanan fatwa.
8. Kalau
soal pembicaraan mengenai kinjungan AHY ke PBNU antara SBY dan Kiai Maruf,
memang ada. Tp itu non-issue.
9. Jadi,
ketika pengacara Ahok menuduh Kiai Maruf berbohong soal adanya pembicaraan dg SBY
per telepon, mereka jelas ceroboh dg tuduhan itu.
10. Secara
pemikiran, saya berseberangan dg Kiai Maruf, hingga sekarang. Tapi ndak terima
kalau dia dituduh bohong oleh pengacara Ahok.
11. Kiai
Maruf sama sekali tak bohong dlm hal tak adanya pembicaraan per telepon dg SBY
soal permintaan fatwa.
12. Tapi
tampaknya pengacara Ahok yakin benar ada bukti bhw SBY memesan fatwa dari MUI
soal Ahok. Kita tunggu saja buktinya.
13. Bukti
ini perlu digelar secara publik, biar tuduhan Ahokers bhw SBY ada di belik
fatwa MUI soal Ahok bisa dikubur. Ini tuduhan bengis!
14. Sekarang
saya akan twit soal Ahok. Saya tak pernah ngetwit soal pribadi Ahok selama ini,
sampai soal Kiai Maruf ini muncul.
15. Selama
ini twit2 saya paling hanya mengkritik Jokowi atau mempromosikan AHY. Tapi
mengkritik Ahok, nyaris ndak pernah.
16. Tetapi
gara2 kasus Kiai Maruf ini, terpaksa saya bicara terus-terang soal Ahok.
Terpaksa, karena kondisi “force majeur”.
17. Tadi
siang saya ngetwit bhw Ahok ini “too dangerous to our social fabric.” Saya
serius dg twit itu. Tidak main2.
18. Sejak
awal hingga sekarang, sikap saya jelas, tanpa tedeng aling2: saya tak anggap
Ahok melecehkan agama. Ini sikap saya.
19. Tapi bkn
berarti Ahok tak lakukan kesalahan. Dia lakukan blunder politik yg bodoh dg
pernyataan2nya yg kurang perlu soal Al Maidah dulu.
20. Sekarang
Ahok melakukan blunder lg dg memproduksi kesalahan yg bikin marah segmen umat
yg penting, yaitu NU.
21. Saya
tahu tak semua warga NU marah dg perlakuan Ahok atas Kiai Maruf. Tapi yg marah,
harus diakui, banyak jg. Jangan “denial” dong.
22. Kalau
pengurus pusat GP Ansor mengeluarkan pernyataan keras untuk bela Kiai Maruf,
ini sudah “wake up call”. Ahok “crossing the line”.
23. Blunder2
Ahok ini menegaskan satu hal: dia tak sensitif terhadap konteks sosial.
Insensitivitas dia bisa bahayakan huhungan2 keumatan.
24. Merawat
harmoni sosial itu susah. Dan tampaknya Ahok “took this too lightly”. Dia hanya
mau jalan dg ego dan arogansinya sendiri.
25. Ahok
“complain” karena diperlakukan tak adil oleh FPI. Fair enough. Ini komplain yg
“justified”. Saya jg bukan pendukung FPI.
26. Tp yg
saya sayangkan: jika Ahok tahu berhadapan dg kelompok spt FPI, kenapa dia bikin
pernyataan2 yg justru bisa “membunuh”-nya sendiri?
27. Sekarang
Ahok tak saja membuka front dg FPI, tetapi dg umat NU. Maunya apa orang ini?
Mau merusak hubungan sosial dan keumatan?
28. Kalau
Anda seorang pemikir bebas di kampus, boleh lah bikin statemen yg kontroversial
soal agama. Tapi kalau pejabat publik kayak Ahok?
29. Ahok
jangan niru2 Gus Dur, ikut2an mau bikin statemen yg kontroversial soal agama.
Ndak maqam-nya. Harus tahu diri.
30. Kalau
anda pejabat publik, anda harus hati2 ketika berhadapan dg isu2 sosial yg
potensial membangkitkan kemarahan orang banyak.
31. Kalau
anda sembrono sbg pejabat publik dg berceloteh seenaknya, ya anda harus siap
menghadapi resikonya. Jangan salahkan umat/rakyat.
33. Membela
Ahok dg argumen pluralisme dan kebhinnekaan dlm situasi dan konteks spt ini,
jelas “completely misplaced”!
34. Saya
justru berpendapat, Ahok tampaknya tak peduli dg kebhinnekaan. Dia hanya peduli
dg egonya sendiri.
35. Jika
Ahok peduli dg kebhinnekaan, dia tak akan berlaku kasar pada Kiai Maruf. Sbb
ini potensial bikin marah warga nahdliyyin.
36. NU itu
ormas yg selama ini paling “friendly” pada Ahok. Nahdliyyin yg dukung Ahok jg
banyak. Kok bisa Ahok berlaku kasar pada tokohnya?
37.
Insentisitivitas Ahok pada konteks sosial sudah sampai pada derajat yg
“intolerable”. We cannot afford having him as governor anymore!
38.
Membiarkan Ahok pada posisi publik yg penting spt gubernur jelas tak bisa
dibenarkan. Membahayakan kehidupan sosial.
39. Tak
pernah saya seterus terang ini. Tapi saya harus mengatakannya: Ahok berbahaya
bagi hubungan antar-agama di negeri ini.
40. Sikap2
sosial Ahok sama sekali tak kondusif dan “kompatibel” dg tujuan bersama untuk
merawat harmoni sosial. Sekian.

0 Response to "Ulil Absar: Saya Harus Terus Terang, Ahok Berbahaya Bagi Hubungan Antar-Agama di Negeri Ini."
Posting Komentar