RadarRakyat.Info-Rakyat semakin sudah, daya beli terus melemah. Sementara di era pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla, pertumbuhan ekonomi hanya sekitar 5 persen, padahal seharusnya 6-7 persen. Akibatnya, frustasi rakyat terhadap Presiden Jokowi semakin memuncak.
Kondisi
pertumbuhan perekonomian nasional yang jalan di tempat bahkan semakin menurun
itu, tak lain akibat ketidakmampuan tim ekonomi kabinet Jokowi, terutama Menko
Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani
Indarwati (SMI).
Sejumlah
kalangan mendesak Presiden Jokowi melakukan reshuffle kabinet terutama tim
ekonomi. Reshuffle diperlukan untuk menyelamatkan pertumbuhan ekonomi dan
meningkatkan daya beli rakyat.
“Untuk
menyelamatkan rakyat dari penderitaan, Presiden Joko Widodo harus mencopot
Menko Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Kedua
menteri ini tidak mampu mengatasi kesulitan yang dihadapi saat ini. Percuma
saja keduanya ada di kabinet,” kata Diko Subagja, aktivis dari Indonesia Forum
kepada Harian Terbit, Jumat (10/2/2017).
Menurutnya,
keberadaan Darmin dan SMI hanya akan menjadi beban yang akan mempersulit
kinerja pemerintahan Presiden Jokowi. “Toh setelah keduanya duduk di kabinet,
publik tidak melihat mereka melakukan langkah-langkah konkret dan berbagai
terobosan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Katanya ‘jagoan’ kok tidak
berbuat apa-apa,” ujar Diko, mahasiswa S3 ini.
Hal senada
disampaikan pengamat ekonomi dari Universitas Bung Karno, Salamudin Daeng.
“Sudah saatnya presiden mengganti Menko Darmin dan Menkeu Sri Mulyani. Keduanya sudah tidak mampu mengatasi
persoalan yang saat ini dihadapi,” kata Salamudin.
Untuk
mengatasi persoalan saat ini dan menggenjot pertumbuhan, tentu harus ada solusi
out of the box. Namun Salamudin mengatakan hal itu tidak akan mampu dilakukan
Sri Mulyani dan Darmin Nasution.
Rakyat
Frustasi
Pertumbuhan
ekonomi nasional harus ditingkatkan jika tidak ingin jumlah rakyat miskin terus
bertambah. Itulah sebabnya, kata Diko dan Salamudin, Presiden Jokowi harus
punya tim ekonomi yang pekerja keras, cerdas, dan memiliki jiwa kerakyatan atau
bukan neolib.
“Menteri
ekonomi itu harus kerja keras, cerdas dan bukan dari kalangan neolib. Dengan
demikian para menteri itu bisa membantu Jokowi untuk menyehatkan perekonomian
nasional. Menteri neolib tak akan pernah memikirkan pertumbuhan ekonomi
kerakyatan,” ujar pengamat politik Zulfikar Ahmad dihubungi, Kamis (9/2/2017).
Menurutnya,
kalau Jokowi ingin meraih simpati rakyat, tentu harus menggenjot pertumbuhan 6-7 persen. Namun, banyak
kalangan tidak yakin Darmin dan SMI mampu melakukannya. “Akibatnya kemarahan
dan frustasi rakyat terhadap pemerintahan Jokowi-JK semakin meningkat,”
paparnya.
Hal senada
disampaikan Salamudin Daeng, menurutnya SMI dan Darmin terbukti tidak mampu
memperkuat pembangunan perekonomian. Pertumbuhan ekonomi yang hanya sekitar 5%
menunjukkan tak adanya terobosan dari keduanya.
Keduanya
sudah buntu dan tak mempunyai solusi. Apalagi tax amnesty sudah mendekati
akhir. "Mereka tidur saja, ekonomi
rakyat yang bertopang sektor konsumtif, sudah mampu mencapai pertumbuhan
5%," ungkap Salamudin. (ntc)

0 Response to "Tak Bisa Berbuat Apa-Apa, Jokowi Diminta Copot Darmin Dan Sri Mulyani"
Posting Komentar