RadarRakyat.Info-Dalam empat sampai lima bulan terakhir, Presiden Joko Widodo mengaku mendapat banyak pertanyaan mengenai demokrasi di Indonesia yang tengah diuji oleh serangkaian persoalan. Salah satu pertanyaan yang dilontarkan adalah demokrasi Indonesia yang sudah kelewatan atau kebablasan.
"Apa
demokrasi sudah terlalu bebas dan kebablasan? Saya jawab iya. Demokrasi kita
kebablasan," tegas Presiden Jokowi saat memberikan pidato dalam rangka
pengukuhan pengurus Partai Hanura di Sentul International Convention Center,
Rabu (22/2).
Jokowi
menuturkan, praktik demokrasi politik di Indonesia membuka peluang terjadinya
artikulasi politik ekstrem. Mulai dari liberalisme, radikalisme,
fundamentalisme, sektarianisme, hingga terorisme. Serta ajaran lain yang
bertentangan dengan ideologi Pancasila.
Presiden
mengatakan, penyimpangan praktik demokrasi secara jelas terlihat dari persoalan
politisasi SARA. Jokowi menyerukan agar seluruh rakyat Indonesia menghindari
praktik semacam ini.
"Sekarang
ini bertebarannya kebencian, fitnah, saling memaki, menghujat, bohong. Kalau
diteruskan bisa menjurus pada pecah belah bangsa kita," kata Jokowi.
Kepala
Negara meyakini, jika Indonesia berhasil melewati ujian demokrasi ini, maka
republik ini bakal semakin dewasa, matang, dan tahan uji. Bukan justru
melemahkan. Namun, jangan sampai tenaga dan pikiran habis untuk hal seperti ini
sehingga melupakan pekerjaan rumah yang utama yakni menyejahterakan rakyat.
Mantan
Gubernur DKI Jakarta ini menyakini, kunci dari demokrasi yang kebablasan adalah
penegakan hukum. Karena itu dia meminta aparat hukum untuk tegas
"Tidak
usah ragu-ragu.". (mdk)

0 Response to "Presiden Jokowi: Demokrasi kita kebablasan"
Posting Komentar