RadarRakyat.Info-MENJADI "orang keturunan" dan Kristen di negeri besar dengan 17 ribu pulau ngga susah-susah amat. Buktinya Om Liem, Ciputra, James Riyadi atau Franky Wijaya bisa jadi konglomerat. Buktinya, Ahok bisa jadi Wagub dan Gubernur DKI. Sekali pun ngga punya pengalaman organisasi, IQ pas-pasan dan minim pengetahuan. Jadi gubernur berarti lolos dari 6 skandal korupsi. Sudah menista Surat Al Maidah, namun ngga juga ditahan. Ngga seperti kasus Permadi, Rusgianti, Arswendo dan 130-an kasus serupa selama 15 tahun terakhir.
Menjadi
"orang keturunan", Kristen dan gubernur sekaligus itu asyik. Bisa
caci maki sekenanya. Ngomong "tokay" di tivi tetap dibela buzzer
bayaran. Sehabis menista agama, ulama besar-cum-Rois Aam NU pun bisa diserang.
Dituding berbohong. Diancam akan diproses hukum.
Bila seorang
gubernur dikecam, dicaci, dihujani batu, ditolak blusukan, disumpahi cepet mati
pasti ada sebabnya.
Indonesia
negeri beradab dan budaya tua. Terkenal sebagai tempat hidup orang sopan dan
santun. Sebab gubernur itu dibenci pasti bukan karena dia "orang
keturunan" atau Kristen. Buktinya, Kristiadi Sanjaya alias Bong Hon San
aman-aman saja jadi Wagub Kalbar.
Tidak pernah
rakyat memberi amanah kepada seorang gubernur untuk menggusuri rakyat secara
brutal. Lalu menuding mereka sebagai penyabot tanah negara dan pengintai turap.
Hanya komunis extrim yang bisa ngomong begitu. Amanah seorang gubernur bukan
untuk ngatain aktifis sebagai pelestari kemiskinan, menghina demonstran sebagai
pencari nasi bungkus atau ngancem semprot mereka dengan bensin.
Ngga pernah
ada gubernur macam begitu. Di seluruh dunia, baru ada satu gubernur kayak gitu.
Sepanjang sejarah, baru ada di Jakarta, seorang gubernur-cum-penista agama yang
pede minta dinominasikan sebagai kandidat peraih Hadiah Nobel Perdamaian. Perilakunya
bikin ngilu. Hanya di Indonesia, manusia gubernur "orang keturunan"
sekaligus Kristen macam begini bisa survive.
Dia pasti
mati bila tinggal di Afganistan. Dieksekusi tembak bila jadi Walikota Shanghai.
Di Singapura, Amerika, Eropa atau di Madagaskar, si mulut beringas ini bakal
jadi langganan masuk bui. Alih-alih bersyukur dan berkaca diri, keluarganya
malah ngomong "ngga guna hidup lebih lama di negeri ini." Publik
sontak kompak menjawab, "Silahkan pergi keluar Indonesia. Segera.
Secepatnya." [***]
Penulis
adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak) (rmol)

0 Response to "Catatan Aktivis Tionghoa : Diary Gubernur Gagal"
Posting Komentar