RadarRakyat.Info-Sebagai Menteri/Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Ahmad Yani pada 1962 menuliskan ungkapan menarik tentang Pasukan Tajrabirawa. Dalam pesan tertulis Ahmad Yani di Majalah Tjakrabirawa edisi Oktober saat itu, Pasukan Tjakrabirawa diharapkan dapat menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dalam segala kondisi.
"Terapung
sama hanyut, terendam sama basah," begitu tulis Ahmad Yani dalam testimoni
untuk Pasukan Tjakrabirawa.
Menurut
mantan Wakil Komandan Tjakrabirawa Kolonel Purn Maulwi Saelan, Ahmad Yani
adalah yang paling dekat dengan Bung Karno. Saelan juga menuturkan, Soekarno
pernah menyebut kalau Ahmad Yani adalah penggantinya sebagai presiden.
"Bung
Karno bicara seperti itu kepada saya. Bung Karno menilai Ahmad Yani adalah
sosok penggantinya yang tepat di kemudian hari," kata Saelan saat ditemui
merdeka.com pada Jumat (27/9) di Sekolah Al-Azhar Kemang, Jakarta Selatan.
Saelan juga
menjelaskan, jauh-jauh sebelumnya, Soekarno juga sudah mendengar persetujuan
pihak keluarga Ahmad Yani. Hingga dijadwalkan akan ada pertemuan untuk membahas
hal itu lebih lanjut. Dalam penjelasan Saelan, Ahmad Yani dijadwalkan akan
menemui Bung Karno di Istana Jakarta pada 1 Oktober 1965.
"Dalam
agenda yang kami pegang saat itu, Ahmad Yani akan menghadap. Tapi tidak tahu
apa yang akan dibicarakan. Dari penuturan Bung Karno akan Yani sebelumnya,
pertemuan itu akan membahas kelanjutan untuk membahas Ahmad Yani sebagai
pengganti Bung Karno," ujar saelan lebih lanjut.
Hubungan
Yani dan Soekarno mulai dekat ketika Yani menjabat Kepala Staf Gabungan Komando
Tertinggi (KOTI) pembebasan Irian Barat sekitar tahun 1963. Yani juga menjadi
juru bicara tunggal Panglima Tertinggi soal Irian Barat. Hampir setiap hari dia
rapat dengan Soekarno di Istana. Hubungan mereka kemudian memang erat. Setelah
menjabat Kasad, hubungan Yani dan Soekarno makin akrab.
"Banyak
yang bilang bapak jadi anak emas Presiden Soekarno," kata putri Yani,
Amelia A Yani dalam buku Achmad Yani Tumbal Revolusi terbitan Galang Press.
Amelia Yani
mengingat hubungan ayahnya dan Presiden Soekarno sangat dekat. Amelia mengingat
Soekarno ikut peduli dengan renovasi rumah Yani di Menteng. Soekarno juga
sering mengajak Yani ikut dalam kunjungan ke daerah. Bahkan menyempatkan hadir
saat syukuran rumah Yani.
"Hari
Minggu pun Bapak dan Ibu sering menemani Bung Karno dan ibu Hartini
ngobrol-ngobrol di Istana Bogor," kenang Amelia.
Namun
kemesraan itu tak berlangsung lama. Isu Dewan Jenderal dan rumor kudeta
Angkatan Darat membuat jarak di antara Soekarno dan Yani.
Mantan Wakil
Perdana Menteri Soebandrio punya keterangan berbeda soal rencana pemanggilan
Yani tanggal 1 Oktober 1965 itu. Di buku 'Kesaksianku tentang G30S', Soebandrio
menyebut, Presiden Soekarno memanggil Yani untuk untuk dimarahi karena tidak
setuju dengan keberadaan angkatan kelima. Dalam catatan Soebandrio itu, posisi
Yani sebagai Menpangad akan dicopot.
"Yani
malah sudah siap kursinya (Menpangad) akan diberikan kepada orang lain. Saat
itu juga beredar isu kuat bahwa kedudukan Yani sebagai Menpangad akan diganti.
Presiden Soekarno memerintahkan agar Yani menghadap ke Istana pada 1 Oktober
1965 pukul 08.00 WIB. Tetapi hanya beberapa jam sebelumnya Yani diculik dan
dibunuh," tulis Soebandrio dalam bukunya.
Soal Yani,
menambah satu lagi polemik tak terjawab dalam G30S.
Sumber :
https://www.merdeka.com/peristiwa/soekarno-punya-rencana-tunjuk-ahmad-yani-jadi-penggantinya.html

0 Response to "Ahmad Yani, Calon Presiden Pengganti Soekarno yang Gugur karena Kebiadaban PKI"
Posting Komentar