Dunia Mengakui Kehebatan Teknik dan Seni Merakit Perahu Pinisi | RADAR RAKYAT -->

Dunia Mengakui Kehebatan Teknik dan Seni Merakit Perahu Pinisi

UNESCO menetapkan teknik dan seni membuat perahu Pinisi asal Sulawesi Selatan masuk dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda Dunia pada Sidang ke-12 Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO di Pulau Jeju, Korea Selatan, Kamis, (7/12/17), yaitu PINISI: Seni Pembuatan Perahu di Sulawesi Selatan (PINISI: Art of Boatbuilding in South Sulawesi) ke dalam UNESCO Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity.

Seperti diketahui, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sebelumnya telah mendaftarkan seni teknik membuat kapal Pinisi ke UNESCO pada 2015 lalu.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid mengungkapkan, penetapan Pinisi adalah bentuk pengakuan dunia internasional terhadap arti penting pengetahuan tentang teknik perkapalan tradisional nenek moyang bangsa Indonesia yang diturunkan dari generasi ke generasi dan masih berkembang sampai hari ini.

“Kami bangga dengan pengakuan dunia terhadap warisan budaya Indonesia. Mewakili pemerintah, saya mengucapkan rasa terima kasih kepada masyarakat atas kepeduliannya sehingga karya budaya ini ditetapkan," ujar Hilmar.

Lanjut dia, penetapan tersebut menjadi pemicu agar generasi muda bisa bangga untuk tetap menjaga nilai tradisi kebudayaan yang dimiliki.

“Dunia saja mengakui, tentunya bangsa Indonesia harus lebih mengakui. Kami berharap para generasi muda menjadi lebih bangga dan menggali nilai tradisi budaya untuk lebih dikembangkan,” tambahnya.

Dalam sidang penetapannya, UNESCO menekankan perlunya Indonesia membuat sejumlah upaya untuk tetap menjaga ketersediaan kayu sebagai bahan baku Pinisi sehingga teknologi tradisional tersebut berkelanjutan.

Sidang juga menilai Indonesia perlu membuat program baik melalui pendidikan formal, informal, maupun informal untuk melestarikan ilmu dan seni pembuatan kapal Pinisi kepada generasi muda.

Pinisi merupakan kapal layar tradisional khas Indonesia yang berasal dari suku Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan. Dikenal sebagai jenis kapal, Pinisi pada dasarnya merupakan nama layar.

Kapal Pinisi umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, tiga di ujung depan, dua di bagian depan, dan dua di bagian belakang.

Dua layar utama dalam kapal Pinisi memiliki makna mendalam, yaitu didasarkan pada dua kalimat syahadat. Sedangkan tujuh buah layar menggambarkan jumlah ayat dalam surat Al-fatihah, yang merupakan pembuka kitab suci alquran.

Kapal Pinisi diketahui telah ada sejak sebelum 1.500 Masehi. Menurut naskah Lontarak I Babad La Lagaligo pada abad ke-14 Masehi, Pinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading. Ia merupakan putera mahkota Kerajaan Luwu.

Sawerigading konon membuat Pinisi untuk berlayar ke negeri Tiongkok guna meminang seorang putri bernama We Cudai.

Dalam membuat perahu Pinisi, dibutuhkan serangkaian prosesi adat. Prosesi dimulai dengan upacara kurban, upacara pengusiran roh penghuni kayu bahan baku kapal, dan sejumlah upacara lainnya sepanjang pembuatan Pinisi hingga selamatan jelang peluncuran.

Dengan penetapan teknik pembuatan Pinisi, maka Indonesia telah memiliki delapan elemen budaya dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Tujuh lainnya adalah wayang, keris, batik, angklung, tari saman, noken papua, dan tiga genre tari tradisional bali.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dunia Mengakui Kehebatan Teknik dan Seni Merakit Perahu Pinisi"

Posting Komentar