RadarRakyat.Info-Oleh Asyari Usman (Journalist)
Dengan
pertumbuhan ekonomi yang luar biasa cepat selama puluhan tahun belakangan,
Republik Rakyat Cina (RRC) berhasil menumpuk devisa dalam jumlah yang sangat
besar. Pada akhir 2016, cadangan valuta asing negara itu mencapai 3 triliun
dollar (tiga ribu miliar dollar). Sebagai perbandingan, cadangan devisa
Indonesia berada pada angka 116 (seratus enam belas) miliar dollar. Cadangan
devisa Amerika Serikat, jauh di bawah itu; lebih kuranga sama dengan cadangan devisa
Indonesia.
Pada tingkat
3 triliun dollar, sebetulnya jumlah cadangan devisa RRC itu merupakan yang
terendah sejak 2011, tetapi tetap sebagai jumlah cadangan devisa tertinggi
dibanding negara mana pun di dunia. Jepang punya 1.24 triliun dollar.
Nah, apa
perlunya angka-angka ini saya tuliskan? Untuk memberikan gambaran bahwa RRC
sedang banyak duit. Selanjutnya untuk memberikan perspektif bahwa tumpukan duit
yang sangat besar itulah yang membuat Beijing merambah ke segala penjuru untuk
menawarkan pinjaman dan investasi termasuk ke Indonesia. Mereka pergi ke
negara-negara lemah ekonomi di Asia, Afrika dan Amerika Latin, Eropa Timur,
bahkan masuk juga ke negara-negara kaya.
Indonesia
mengundang RRC untuk tanam modal di berbagai proyek raksasa, terutama di sektor
energi dan infrastruktur; selain juga memberikan kesempatan yang sangat luas
untuk berinvestasi membuat macam-macam pabrik. Tentu tidak ada yang salah
dengan itu. Karena kita memang selalu memerlukan pertumbuhan ekonomi dan
perdagangan. Kita sedang perlu memperbanyak lapangan kerja.
Tetapi kita
wajib mengingatkan kepada pemerintah agar waspada terhadap "misi tak
tertulis" RRC dalam memberikan pinjaman dan melakukan investasi, baik itu
memalui jalur G to G maupun B to B. Pemerintah harus awas terhadap perangkap
hutang RRC, terhadap modus yang mereka terapkan.
Profesor
Brahma Chellaney, seorang guru besar Studi Strategis di Centre for Policy
Research and Fellow yang berpusat di New Delhi menyimpulkan bahwa RRC
memberikan pinjaman besar kepada negara-negara yang berposisi strategis secara
geopolitik, bukan bertujuan untuk mengangkat perekonomian kawasan itu melainkan
untuk mengincar sumberdaya alam. Selain itu, juga bertujuan untuk menjual
barang-barang murah(an) produksi RRC.
Chellaney
mengatakan lagi, dalam banyak kasus RRC mengirimkan tenaga kerja mereka untuk
mengerjakan proyek-proyek yang dimodalinya. "Memperkecil penciptaan
lapangan kerja bagi penduduk lokal," kata Chellaney.
Sri Lanka
adalah salah satu korban jebakan hutang RRC. Mereka memodali dan mengerjakan
bandara internasional Mattala Rajapksa di dekat kota kecil, Hambantota. Bandara
ini kosong melompong karena salah perencanaan. Kemudian ada pelabuhan laut
besar tak jauh dari situ yang dibuat dengan dana pinjaman dari RRC sebesar 1.4 miliar
dollar. Pelabuhan ini juga tidak berfungsi. Tetapi Sri Lanka harus bayar bunga
sebesar 17 juta dollar per tahun untuk pinjaman sebesar 4.8 miliar dollar
--pinjaman yang digunakan pula untuk pembanguna prasarana dan sarana pendukung.
RRC
santai-santai saja melihat proyek besar yang gagal ini. Mereka rupanya
mengerahkan dua kapal perang ke pelabuhan laut yang kosong ini dengan alasan
untuk menjaga keamanannya. Sementara itu, dua kapal selam tempur RRC dibolehkan
kelua-masuk sejumlah pelabuhan di Sri Lanka. Ternyata, skenario yang telah
disiapkan RRC adalah bahwa Sri Lanka akan dijadikannya sebagai
"pangkalan" untuk mengamankan "Jalur Sutera" gaya baru.
Pemerintah Kolombo tidak bisa menolak karena hutang kepada RRC lumayan besar. Beginilah
Cina menebar perangkap hutang. Dengan kemampuan yang terbatas untuk membayar
pinjaman, Sri Lanka sekarang menjadi "anak buah" RRC.
Sri Lanka
bukan korban satu-satunya. Kamboja, Laos, Myanmar dan Thailand pun sekarang
"dikendalikan" oleh RRC lewat misi perangkap hutang. Keempat negara
ini didikte oleh Beijing untuk menggagalkan resolusi ASEAN yang menentang
ambisi teritoral RRC di Laut Cina Selatan.
RRC sangat
licik. Kalau negara-negara yang berhutang ingin meminta rescheduling
(penjadwalan ulang) hutang mereka, boleh-boleh saja. Tetapi ada syaratnya:
mereka harus kasih kontrak-kontrak baru kepada Cina. Contoh, akhir 2016 RRC
menghapuskan hutang Kamboja sebesar 90 juta dollar. Sebagai imbalannya Cina
mendapat proyek-proyek besar yang baru dengan modal Cina, dengan jeratan hutang
baru, dan Cina meraup keuntungan yang lebih besar lagi.
Akankah
Indonesia masuk perangkap hutang RRC? Kalau Presiden Joko Widodo "terlalu
dekat" dengan Beijing dan mempersilakan Cina membangun proyek-proyek besar
dengan syarat yang mereka tentukan, bisa jadi kita juga terjerat. Di Nepal, RRC
memaksa kepemilikan 75% atas proyek-proyek yang mereka modali. Sejumlah negara
Afrika juga ikut terkena perangkap hutang yang membuat mereka tergiring secara
ekonomi dan terbelenggu secara politis.
Terus, apakah
Indonesia sebegitu perlunya ambil hutangan dari Cina? Saya katakan, tidak
perlu. Sebab, masih ada banyak negara lain yang bersedia memberikan pinjaman
atau investasi untuk proyek-proyek besar. Memang lebih mahal sedikit, tetapi
mereka tidak membawa tenaga kerja sendiri sampai ke tingkat buruh kasar
sekalipun seperti yang dilakukan RRC.
Sebenarnya,
sekarang pun banyak proyek atau industri Cina di Indonesia yang mempekerjakan
buruh dari RRC, bahkan banyak yang ilegal. Coba saja Anda ikuti berita-berita
tentang penggerebekan pekerja ilegal RRC di berbagai lokasi di seluruh
Indonesia. Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, awal
tahun lalu mengeluhkan bahwa investasi RRC membawa sebanyak mungkin tenaga
kerja mereka. Ada pabrik baja yang 35% pekerjanya orang RRC.
Kita
berharap, sebelum terlambat dan sebelum Indonesia semakin jauh perangkap hutang
RRC dan kemudian dikendalikan oleh Beijing, segeralah cari alternatif investasi
asing; batalkan syarat yang ditetapkan oleh RRC yang mengharuskan Indonesia
menerima tenaga kerja dari mereka.
Kita tidak
tau, bisa saja nanti RRC memberikan pinjaman dan investasi dengan syarat PKI
harus dibolehkan hidup lagi di Indonesia; para pembina PKI harus didatangkan
dari RRC; dan MUI harus dibubarkan, dlsb. Sesuatu yang rasanya tidak mungkin,
namun bukan mustahil. Wallahu alam (tsc)

0 Response to "Waspada Perangkap Hutang China, Memberikan Pinjaman dengan Syarat PKI Hidup Lagi di Indonesia"
Posting Komentar