RadarRakyat.Info-Jaringan aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) mendesak Presiden Jokowi untuk segera memerintahkan Polri beserta instrumen kekuasaan lainnya untuk secepat mungkin menyelesaikan kasus tuduhan makar para aktivis dengan profesional, transparan, adil dan manusiawi.
Prodem juga
menuntut sebaiknya Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara mundur atau
bersikap tegas terhadap pemberitaan yang tidak berimbang dan tendesius
menyudutkan para tertuduh makar. Hal ini dikarenakan penangkapan para aktivis
terkesan terburu-buru dan dipaksakan untuk melancarkan agenda tersembunyi
kekuasaan.
"Pola
semacam ini sangatlah membahayakan bagi transisi demokrasi di Indonesia yang
mulai tumbuh," tegas Sekjen Prodem, Satyo Purwanto dalam keterangannya,
Jumat (3/2).
Tuduhan
makar itu menurut dia, seolah mengingatkan dengan rezim orde baru, di mana
kebebasan menyatakan pendapat dianggap sebagai virus mematikan bagi pemerintah.
Apalagi penetapan status tersangka terhadap para aktivis begitu cepat tanpa
melalui proses yang transparan dan didasari bukti-bukti yang kuat. Bahkan beberapa
aktivis langsung ditahan hanya karena subjektivitas Polri.
Sedangkan
dalam kasus penistaan agama, kata dia membandingkan, terdakwanya Basuki Tjahaja
Purnama alias Ahok masih saja bebas tanpa pengawasan.
"Padahal
Ahok jelas-jelas sudah tersangka dan sangat membahayakan keutuhan NKRI, dan
sudah beberapa kali mengulang dan membuat polemik yang mengancam disintegrasi
bangsa," ujarnya.
Sementara
itu, Menkominfo seharusnya responsif dengan memberikan informasi berimbang dan
adil kepada masyarakat.
"Inikah
yang dinamakan keadilan dan persamaan di depan hukum? Dimanakah letak
profesionalisme Polri dalam menangani kasus ini?. Di mana kompetensi Menkominfo
soal hal ini?" kritiknya.
Menurut
Satyo, sudah saatnya Presiden Jokowi bersikap tegas terhadap para bawahannya
yang tidak mampu lagi melaksanakan kerjanya sebagai instrumen pemerintah dan
jangan membiarkan rongrongan dari dalam kabinetnya sendiri yang justru akan meruntuhkan fundamental
kekuasaan Istana.
"Jika
hal ini dibiarkan terus terjadi, apalah bedanya dengan rezim orba terdahulu.
Rezim otoritarian akan tumbuh dan akan mematikan konsolidasi demokrasi yang
telah tumbuh," tutup mantan aktivis mahasiswa 98 ini (rmol)

0 Response to "Aktivis Dituduh Makar, Apa Bedanya Dengan Rezim Orba"
Posting Komentar